Bahasa Prancis Diperkenalkan di Sekolah, Komisi X dan Gus Nadir Berikan Kritikan
Nadir Media - Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar bahasa Prancis diajarkan di seluruh tingkat sekolah di Indonesia. Instruksi ini disampaikan dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, di Istana Élysée, Paris.
Awal Kejadian
Langkah ini diambil untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi dinamika global. Namun, instruksi ini menimbulkan perhatian luas terkait teknis pelaksanaan dan dampaknya pada sistem pendidikan nasional yang sudah ada.
Perkembangan
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menanggapi arahan tersebut dengan rencana meminta penjelasan dari kementerian terkait, khususnya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Komisi X menekankan perlunya kejelasan mengenai roadmap pendidikan bahasa asing dan kesiapan implementasi di lapangan. Mereka juga mengingatkan bahwa penambahan muatan kurikulum harus matang agar tidak membingungkan sekolah.
Gus Nadirsyah Hosen, akademisi dari University of Melbourne, menyatakan kekhawatirannya bahwa kebijakan ini mungkin terkesan sebagai gestur diplomatik. Ia berpendapat pemilihan bahasa asing harus berlandaskan analisis kebutuhan pasar kerja dan mempertimbangkan masalah praktis di lapangan pendidikan Indonesia, seperti kekurangan guru spesialis dan anggaran.
Kondisi Terakhir
Gus Nadir menyoroti potensi beban berlebih bagi siswa dan orang tua. Ia mengusulkan bahwa jika ada mata pelajaran baru, pelajaran lain seharusnya dikurangi untuk mencegah overload. Terakhir, ia berharap agar instruksi ini telah melalui proses diskusi yang matang, sehingga tidak menambah beban pada siswa dan tetap memberikan kualitas pendidikan yang baik.




