AS Tuduh Tiongkok Tingkatkan Persenjataan Nuklir Tanpa Transparansi
WASHINGTON - Washington menuduh Tiongkok secara dramatis memperbesar persenjataan nuklirnya, dan kembali menegaskan klaim bahwa Beijing telah melakukan uji coba nuklir rahasia, menuntut agar Tiongklok menjadi bagian dari perjanjian pengendalian senjata di masa mendatang.
Washington mengatakan berakhirnya Perjanjian New START awal bulan ini - perjanjian terakhir antara kekuatan nuklir utama, Amerika Serikat dan Russia - memberi kemungkinan untuk mencapai "kesepakatan yang lebih baik", termasuk Beijing.
Tiongkok secara terbuka menolak seruan untuk masuk dalam negosiasi perjanjian tiga pihak yang baru.
Christopher Yeaw, asisten menteri luar negeri AS untuk pengendalian senjata dan nonproliferasi, mengatakan kepada Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa bahwa perjanjian New START memiliki kekurangan serius.
"Mungkin kekurangan terbesarnya adalah bahwa New START tidak memperhitungkan peningkatan senjata nuklir yang belum pernah terjadi sebelumnya, disengaja, cepat, dan tidak transparan oleh Tiongkok," katanya.
"Terlepas dari klaimnya yang bertentangan, Tiongkok dengan sengaja dan tanpa batasan, telah memperluas persenjataan nuklirnya secara besar-besaran tanpa transparansi atau indikasi apa pun tentang niat atau tujuan akhir Tiongkok," tuduhnya.
"Kami percaya Tiongkok mungkin mencapai kesetaraan dalam empat atau lima tahun ke depan," katanya, tanpa menjelaskan apa yang dimaksudnya dengan kesetaraan.
Baik Russia maupun Amerika Serikat memiliki lebih dari 5.000 senjata nuklir, menurut kelompok kampanye pemenang Hadiah Nobel Perdamaian ICAN.
Namun, New START, yang berakhir pada 5 Februari, membatasi Amerika Serikat dan Russia masing-masing hanya memiliki 1.550 hulu ledak nuklir yang ditempatkan - jumlah yang menurut Washington dengan cepat didekati oleh Tiongkok.
"Beijing berada di jalur yang tepat untuk memiliki bahan fisil yang diperlukan untuk lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir pada tahun 2030," kata Yeaw.
Berakhirnya New START menandai pertama kalinya dalam beberapa dekade tidak ada perjanjian untuk membatasi penempatan senjata paling merusak di planet ini, memicu kekhawatiran akan perlombaan senjata baru.
Yeaw menyambut baik berakhirnya perjanjian tersebut, dengan menegaskan bahwa batasan jumlah hulu ledak dan peluncur yang tercantum di dalamnya "tidak lagi relevan", mengingat dugaan pelanggaran perjanjian oleh Russia.
Ia juga menuduh Moskow membantu "meningkatkan kemampuan Beijing untuk memperbesar persenjataannya".
"Berakhirnya perjanjian ini terjadi pada waktu yang tepat," katanya, seraya menegaskan bahwa hal itu akan memungkinkan Presiden AS Donald Trump untuk mendorong "tujuan utamanya yaitu kesepakatan yang lebih baik".




