Agus, Tukang Parkir Disabilitas yang Menjadi Inspirasi Keluarga
Seorang tukang parkir disabilitas di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, bernama Agus Slamet menunjukkan semangat hidup di tengah keterbatasan fisik. Meski terlahir tanpa kedua kaki, ia tetap bekerja dan menghidupi keluarganya.
Agus tinggal di Kelurahan Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Pria berusia 40 tahun itu sehari-hari bekerja sebagai tukang parkir di salah satu resto di Kudus yang menjual menu garang asem.
Saat ditemui di kediamannya, Jumat (20/2), Agus menyambut dengan ramah. Ia bercerita telah menekuni pekerjaan sebagai tukang parkir hampir 30 tahun, bahkan sejak duduk di bangku kelas 3 SD.
Ingin Mandiri Meski Sering Direndahkan
Terlahir tanpa kedua kaki, perjalanan hidup Agus tidak selalu mudah. Ia mengaku kerap mendapat ejekan dari orang-orang di sekitarnya.
”Sering direndahkan orang, makanya saya ingin punya pekerjaan. Setidaknya bisa memiliki pendapatan untuk mengubah perekonomian,” katanya.
Meski sudah bekerja, ejekan kadang masih ia dengar. Namun, Agus memilih tidak mengambil hati dan menjadikannya sebagai motivasi untuk terus bertahan.
Dalam menjalani pekerjaannya, ia mengaku tidak mengalami kesulitan berarti. Agus mampu membantu memarkirkan sepeda motor maupun mobil pengunjung.
Perjuangan Berangkat Kerja
Rintangan tak hanya datang dari ucapan orang lain. Selama sekitar 10 tahun, Agus berangkat kerja menggunakan angkutan umum. Untuk pulang, ia membonceng rekannya.
”Belum lagi kalau bekerja saat musim hujan, celana saya jadi berat karena kena air. Tetapi saya tetap semangat,” ujarnya.
Ia bekerja setiap hari mulai pukul 13.00 WIB hingga 21.00 WIB. Agus tidak pernah mematok tarif parkir kepada pengunjung. Ia menerima berapapun yang diberikan.
Bahkan jika ada pengunjung yang meminta uang kembalian, ia berusaha mencarikannya.
Anak Jadi “Tongkat” Hidup
Agus menyadari dirinya tidak bisa berpangku tangan karena harus membiayai pendidikan kedua anaknya. Ia menyebut anak-anaknya sebagai pengganti kedua kakinya.
”Saya tidak punya kaki, tetapi saya punya dua anak. Saya anggap kedua anakku itu tongkatku. Maka saya harus memberi tongkat ke anak saya tentang sekolah. Supaya nanti mereka tidak seperti saya,” terangnya.
Dari hasil bekerja, Agus mampu menabung hingga akhirnya bisa membelikan sepeda motor untuk kedua putranya agar memudahkan mereka berangkat sekolah.
”Alhamdulillah ada rezeki. Supaya anak-anak punya kendaraan untuk berangkat sekolah. Setelah ada motor, saya juga diantar kalau mau berangkat kerja,” ungkapnya.
Di tengah keterbatasan, Agus berharap anak-anaknya mendapat kemudahan dalam menjalani kehidupan.
”Saya hanya berharap anak saya diberi perjalanan yang mudah menjalani kehidupan ini,” pungkasnya.




