Nadir Media - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) terus melahirkan inovasi baru di berbagai sektor. Salah satunya datang dari perusahaan rintisan teknologi bernama Simile yang tengah mengembangkan sistem AI untuk menghasilkan jajak pendapat digital secara lebih canggih dan realistis.
Teknologi ini dirancang untuk meniru perilaku manusia dalam berbagai situasi. Dengan demikian, perusahaan atau peneliti dapat memahami opini publik maupun perilaku konsumen tanpa harus melakukan survei konvensional dalam jumlah besar.
Menariknya, inovasi ini juga berhasil menarik perhatian investor global. Menurut laporan Wall Street Journal yang dikutip dari Gizmodo, Simile dikabarkan memperoleh pendanaan modal ventura sebesar 100 juta dolar AS dari Index Ventures. Suntikan dana tersebut akan digunakan untuk mempercepat pengembangan teknologi AI mereka.
Mengembangkan Model AI yang Meniru Perilaku Manusia
Pendiri Simile, Joon Park, menjelaskan bahwa timnya sedang mengembangkan model dasar AI yang mampu memprediksi perilaku manusia dalam berbagai kondisi.
Menurut Park, tujuan utama teknologi tersebut adalah menciptakan sistem yang dapat memahami bagaimana manusia berpikir, merespons, dan mengambil keputusan dalam situasi tertentu.
“Pada dasarnya kami sedang mengembangkan model dasar yang dapat memprediksi perilaku manusia dalam situasi apa pun dan pada skala apa pun,” ujar Park, seperti dikutip gizmodo.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Simile melatih agen AI melalui wawancara berbasis percakapan yang menyerupai dialog sehari-hari. Pendekatan ini memungkinkan sistem AI mempelajari cara manusia berbicara, merespons pertanyaan, hingga membangun pola interaksi yang lebih natural.
Dengan metode ini, agen digital yang dihasilkan tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga dapat mensimulasikan karakter dan preferensi layaknya manusia nyata.
Terinspirasi dari Game The Sims
Menariknya, pengembangan teknologi Simile terinspirasi dari konsep simulasi kehidupan dalam permainan video The Sims.
Game tersebut dikenal menghadirkan dunia virtual di mana karakter digital memiliki kehidupan, aktivitas, serta interaksi sosial yang kompleks. Konsep serupa kemudian diadaptasi oleh tim Simile untuk menciptakan lingkungan simulasi berbasis AI.
Walaupun permainan The Sims tidak disebutkan secara langsung dalam laporan Wall Street Journal, sebuah makalah penelitian tahun 2023 yang ditulis bersama oleh Park mengungkap inspirasi tersebut.
Dalam penelitian itu dijelaskan bahwa para peneliti mencoba membangun lingkungan simulasi berupa kota kecil digital yang dihuni oleh sejumlah agen generatif.
“Dalam penelitian tersebut, agen generatif digunakan untuk mengisi lingkungan sandbox interaktif yang terinspirasi oleh The Sims,” tulis abstrak makalah tersebut.
Melalui sistem itu, pengguna dapat berinteraksi dengan sebuah kota kecil yang dihuni oleh sekitar 25 agen digital menggunakan bahasa alami. Agen-agen tersebut memiliki tujuan, preferensi, dan motivasi masing-masing.
Yang membuat teknologi ini semakin menarik adalah kemampuan agen digital untuk berinteraksi satu sama lain secara mandiri tanpa mengikuti jalur skrip pemrograman yang kaku.
Dengan kata lain, simulasi tersebut dapat menghasilkan dinamika sosial yang lebih realistis.
Digunakan untuk Riset Pelanggan
Teknologi AI yang dikembangkan Simile tidak hanya berpotensi mengubah cara survei dilakukan, tetapi juga membuka peluang baru dalam riset pelanggan.
Beberapa perusahaan besar bahkan mulai menunjukkan ketertarikan untuk memanfaatkan sistem ini. Salah satunya adalah perusahaan ritel kesehatan asal Amerika Serikat, CVS.
Perusahaan tersebut melihat agen digital berbasis AI sebagai alat yang sangat berguna untuk memahami pengalaman pelanggan secara lebih mendalam.
Vice President of Enterprise Customer Experience and Insights CVS, Sri Narasimhan, menyebut teknologi ini berpotensi menjadi terobosan besar bagi perusahaan.
Menurutnya, simulasi berbasis AI dapat membantu perusahaan mempelajari perilaku konsumen secara lebih detail dibandingkan metode survei tradisional.
Selain itu, penggunaan AI juga memungkinkan peneliti mengajukan pertanyaan dalam jumlah yang jauh lebih banyak.
Hal ini karena agen digital tidak mengalami kelelahan responden atau survey fatigue, yaitu kondisi ketika responden manusia mulai kehilangan fokus atau enggan menjawab pertanyaan karena terlalu banyak survei.
Dengan sistem AI, proses riset dapat dilakukan secara berkelanjutan tanpa batasan tersebut.
Simulasi Hingga 100 Ribu Responden
CVS bahkan memiliki rencana ambisius untuk memanfaatkan teknologi ini dalam skala besar.
Perusahaan tersebut berencana meningkatkan jumlah narasumber simulasi digital mereka hingga 100 ribu agen AI dalam waktu dekat.
Agen-agen tersebut nantinya akan digunakan untuk menguji berbagai hal, mulai dari tata letak toko, desain produk baru, hingga pengalaman pelanggan di dalam toko.
Dengan simulasi dalam skala besar, perusahaan dapat memperoleh gambaran tentang bagaimana konsumen bereaksi terhadap perubahan tertentu sebelum benar-benar diterapkan di dunia nyata.
Pendekatan ini diyakini dapat menghemat biaya riset sekaligus mempercepat proses pengambilan keputusan bisnis.
Kolaborasi dengan Gallup
Selain bekerja sama dengan perusahaan ritel, Simile juga menjalin kemitraan strategis dengan lembaga survei terkenal, Gallup.
Kerja sama ini bertujuan untuk mensimulasikan jajak pendapat publik menggunakan agen AI.
Melalui pendekatan tersebut, hasil simulasi diharapkan dapat membantu menghasilkan model keputusan yang lebih transparan sekaligus dapat diverifikasi secara empiris.
Dengan kata lain, hasil analisis AI nantinya akan dibandingkan dengan sentimen masyarakat di dunia nyata untuk memastikan akurasinya.
Jika teknologi ini terbukti efektif, metode survei tradisional yang selama ini mengandalkan responden manusia mungkin akan mengalami transformasi besar.
Masa Depan Survei Berbasis AI
Perkembangan teknologi seperti yang dilakukan Simile menunjukkan bahwa AI semakin memainkan peran penting dalam memahami perilaku manusia.
Di satu sisi, teknologi ini dapat membantu perusahaan dan peneliti memperoleh data dengan lebih cepat, luas, dan mendalam.
Namun di sisi lain, muncul pula sejumlah pertanyaan terkait etika, akurasi, serta bagaimana simulasi digital dapat benar-benar merepresentasikan kompleksitas perilaku manusia.
Meski demikian, langkah Simile menunjukkan bahwa masa depan riset pasar dan jajak pendapat mungkin akan semakin bergantung pada simulasi berbasis kecerdasan buatan.
Jika teknologi ini terus berkembang, bukan tidak mungkin survei publik di masa depan akan dilakukan melalui jutaan agen digital yang meniru perilaku manusia secara realistis.